"Tidak ada satupun bukti bahwa tabung itu bocor, tidak ada," kata JusufKalla usai memberi kuliah umum tentang kemanusiaan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis (8/7/2010).
JK mengatakan, kasus meledaknya tabung gas tidak hanya terjadi pada yang berukuran 3 kg, tetapi juga 12 kg. Karenanya, program konversi minyak tanah ke gas yang dimulai 3 tahun lalu tidak bisa dipersalahkan.
"Semua kasus yang ada, ternyata itu lebih banyak karena kelalaian. Sudah bocor tetap menyalakan elpiji. Kalau Anda punya mobil, Anda tabrakan, siapa yang tanggung jawab?" kata JK.
Kelalaian pemakai tabung gas itu, lanjut JK, yakni belum pernah digantinya selang dan regulator setelah 3 tahun pemakaian atau sejak pertama kali tabung gas program konversi dibagikan.
"Setelah diuraikan sebabnya, tidak ada sama sekali tabung gas yang meledak, yang ada selang yang bocor. Dari valve-nya, jadi valve yang sudah haus," kata dia.
Oleh karenanya, kata dia, solusi mengurangi kasus ledakan adalah dengan mengganti selang dan regulator yang sudah berumur. Ia mengatakan, dua komponen itu harus diganti tiap tahun atau maksimal dua tahun sekali.
"Ya, sudah itu saja, ganti dia punya selang. Sudah 3 tahun harus diganti. Dua tahun satu tahun diganti," pinta JK.
(lrn/irw)











































