Data tersebut diketahui dalam sidak yang dilakukan Aria Bima (Wakil Ketua Komisi VI) dan Mohammad Hatta (anggota Komisi XI) di Kota Solo, Kamis, (8/7/2010).
Pada sidak di agen elpiji di Jalan Adi Sumarmo No 76 Solo, pengelola mengaku setiap hari menerima 10 hingga 15 tabung elpiji ukuran 3 kg yang dikembalikan oleh konsumen. Konsumen menolak tabung tersebut karena dianggap bermasalah dan membahayakan. Meskipun belum dicoba dipakai, warga langsung menolak dan minta diganti tabung baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kita ini sebuah kelalaian luar biasa yang dilakukan oleh Pertamina. Seharusnya kewajiban re-test tabung dilakukan oleh Pertamina, bukan oleh masyarakat seperti ini. Dengan kondisi seperti ini sama halnya Pertamina menyerahkan mekanisme re-test itu itu kepada publik. Ini sangat membahayakan," ujar Aria Bima.
Bima mengatakan ada satu fase penting yang dilewati Pertamina dalam penyaluran tabung gas elpiji 3 kg. Seharusnya sebelum diisi ulang ada mekanisme re-test seperti pada tabung gas elpiji 12 kp ke atas. Jika fase tersebut selalu dilewati maka kecelekaan demi kecelakaan masih mungkin menghantui pengguna gas elpiji.
Selain itu, dalam sidak tersebut juga ditemukan ratusan tabung gas 3 kp yang tidak tertera standar SNI. Bima maupun Hatta heran mengingat pada tabung tersebut tertulis tahun pembuatan 2009. Padahal Mentri Perindutrian telah melaporkan bahwa tabung buatan 2009 keatas semua telah memenuhi standar SNI.
Sedangkan pada sidak di toko-toko penyalur komponen kompor, selang dan regulator, masih banyak ditemukan produk-produk yang tidak berlogo SNI. Bahkan anggota DPR mendapat informasi dari para pedagang bahwa semua komponen bantuan pemerintah pada awal konversi berkualitas di bawah standar.
"Banyak sekali kecerobohan dalam proyek konversi ini. Semua tabung tidak standar SNI harus ditarik dulu. Pertamina juga harus mendirikan pos-pos re-test tabung. Selain itu semua komponen pengganti komponen lama yang tidak sesuai standar harus dibagikan secara cuma-cuma, bukan dijual," ujarnya.
"Jika perlu program ini sebaiknya dihentikan dulu. Untuk sementara kembali lagi ke minyak, demi keselamatan rakyat. Setelah lima syarat dipenuhi sesuai standar yaitu tabung, regulator, katup, selang dan kompor, maka program konversi yang sebenarnya baru dimulai. Sekarang jangan terburu-buru ekspansi selama masih amburadul," lanjutnya.
(djo/djo)










































