Boediono Senang Jadi Keluarga Besar Muhammadiyah

Boediono Senang Jadi Keluarga Besar Muhammadiyah

- detikNews
Kamis, 08 Jul 2010 12:53 WIB
Boediono Senang Jadi Keluarga Besar Muhammadiyah
Yogyakarta - Wakil Presiden (wapres) Boediono mengaku senang menjadi keluarga besar Muhammadiyah. Boediono ternyata menuntut ilmu di bangku sekolah dasar (SD) Muhammadiyah di kota kelahirannya, Blitar, Jawa Timur.

"Saya memang tamatan SD Muhammadiyah di Blitar. SD merupakan pondasi awal mengenal dunia, dan berkat Muhammadiyah lah saya bisa berdiri di sini. Terimakasih Muhammadiyah," ungkap Boediono saat memberikan pidato penutupan Muktamar Muhammadiyah ke-46 di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jl Lingkar Selatan, Tamantirto, Bantul, Kamis (8/7/2010).

Dengan bergurau, Boediono di awal pidatonya juga mengungkapkan tidak akan menyaingi Din Syamsuddin karena lulusan SD Muhammadiyah. "Saya tidak akan menyaingi Pak Din karena hanya lulusan SD Muhammadiyah," seloroh Boediono.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, saat Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah 2010-2015, Din Syamsuddin memberikan pidato sambutan mengungkapkan bila Boediono lulusan SD Muhammadiyah di Blitar. Hal itu diketahui ketika Din bertemu dan berbincang-bincang di Istana Wapres untuk meminta Boediono resmi menutup muktamar.

"Jadi baru tamat SD Muhammadiyah saja sudah jadi wapres. Apalagi tamat SMU Muhammadiyah atau tamat dari UMY," ungkap Din yang langsung disambut tepuk tangan ribuan peserta muktamar yang memenuhi Sportorium.

Dia mengatakan Boediono sudah menjadi bagian dari Muhammadiyah. Oleh karena itu Din mempersilakan Boediono untuk mengurus Kartu Tanda Anggota (KTA) Muhammadiyah. "Bila belum punya, silakan urus dalam satu jam akan selesai," kata Din.

Boediono dalam pidato penutupan mengatakan, Muhammadiyah harus terus tampil dan mengmbil peranan dalam pembangunan di Indonesia. Para nahkoda baru di
Muhammadiyah diharapkan bisa membawa Muhammadiyah semakin maju, bergerak gesit dan trengginas.

Dia mengajak Muhammadiyah untuk terus berkiprah. Rasa saling memiliki antara Muhammadiyah dengan pemerintah juga harus terus dipupuk dan dijaga. Sebab Muhammadiyah merupakan aset besar yang dimiliki oleh negara. Pemerintah pun merasa memiliki Muhammadiyah, begitu juga sebaliknya.

"Artinya, rasa saling memiliki antara pemerintah dengan Muhammadiyah merupakan salah satu syarat untuk mensejahterakan rakyat," katanya.

Boediono juga mengakui di usia satu abad ini, Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan banyak mengalami kemajuan. Di masa depan dibutuhkan kegesitan untuk memimpinย  organisasi.

"Saya ucapkan selamat bagi para pimpinan Muhammadiyah yang terpilih. Semoga bisa membawa Muhammadiyah semakin maju, progresif, transformatif dan bergerak gesit," tutup Boediono.
(bgs/irw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads