"Saya tidak berpikir Anna adalah seorang Mata Hari. Dia memiliki hidup normal sebagai perempuan 28 tahun," kata ibu Anna, Irina Kushchenko, pada tabloid harian Rusia, Tvoi Den, dan dikutip AFP, Rabu (7/7/2010). Mata Hari yang berdarah Belanda berprofesi sebagai penari eksotik ditembak mati oleh aparat Prancis.
Anna mempertahankan nama mantan suaminya, Chapman, di belakang namanya. Irina menyebut putrinya sebagai perempuan mandiri, namun tidak berlebihan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan suami Anna, Alex Chapman, dalam wawancara dengan media Inggris menduga, Anna direkrut oleh ayahnya, yang mengaku sebagai diplomat Rusia namun kenyataannya dia adalah agen KGB.
Karena profesi ayahnya, Anna sering bepergian ke luar negeri. Menurut Irina, putrinya itu belajar pada usia dini untuk menjaga diri dan menangani masalah sendiri saat dia tinggal dengan kakek-neneknya yang sedang sakit.
"Anna selalu terbuka, anak yang gembira. Dia sangat sayang pada nenek-kakeknya dan mencoba menyembunyikan dari mereka hal-hal yang negatif yang terjadi dalam hidupnya," ujar Irina.
"Hidup adalah kerja keras baginya. Dia tidak pernah mengandalkan kami. Dia mencoba mencapai semuanya dengan usahanya sendiri," imbuh Irina.
Anna adalah satu dari 11 tersangka agen spionase yang mencoba menyusup pada lingkaran pembuat keputusan di AS dan melaporkan balik ke Moskow. Gaya spionase yang mirip terjadi pada Perang Dingin ini dikhawatirkan mengancam hubungan baik kedua negara. (nrl/fay)










































