Ibu Mata-mata Cantik Rusia Sebut Putrinya Bukan 'Mata Hari'

Ibu Mata-mata Cantik Rusia Sebut Putrinya Bukan 'Mata Hari'

- detikNews
Rabu, 07 Jul 2010 16:11 WIB
Ibu Mata-mata Cantik Rusia Sebut Putrinya Bukan Mata Hari
Moskow - Bicara mata-mata perempuan, ingatan sering tertuju pada legenda Mata Hari. Perempuan yang pernah menetap di Jawa dan Sumatera bernama asli Margaretha Geertruida itu ditembak mati setelah dituding sebagai mata-mata pada Perang Dunia I.Dan Anna Chapman, perempuan cantik Rusia yang disebut AS sebagai mata-mata, bukanlah Mata Hari.

"Saya tidak berpikir Anna adalah seorang Mata Hari. Dia memiliki hidup normal sebagai perempuan 28 tahun," kata ibu Anna, Irina Kushchenko, pada tabloid harian Rusia, Tvoi Den, dan dikutip AFP, Rabu (7/7/2010). Mata Hari yang berdarah Belanda berprofesi sebagai penari eksotik ditembak mati oleh aparat Prancis.

Anna mempertahankan nama mantan suaminya, Chapman, di belakang namanya. Irina menyebut putrinya sebagai perempuan mandiri, namun tidak berlebihan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebagai mantan guru, saya katakan dia tidak pernah terlalu menonjol di antara teman-temannya. Namun dia pintar, hampir juara kelas," kata ibunya.

Mantan suami Anna, Alex Chapman, dalam wawancara dengan media Inggris menduga, Anna direkrut oleh ayahnya, yang mengaku sebagai diplomat Rusia namun kenyataannya dia adalah agen KGB.

Karena profesi ayahnya, Anna sering bepergian ke luar negeri. Menurut Irina, putrinya itu belajar pada usia dini untuk menjaga diri dan menangani masalah sendiri saat dia tinggal dengan kakek-neneknya yang sedang sakit.

"Anna selalu terbuka, anak yang gembira. Dia sangat sayang pada nenek-kakeknya dan mencoba menyembunyikan dari mereka hal-hal yang negatif yang terjadi dalam hidupnya," ujar Irina.

"Hidup adalah kerja keras baginya. Dia tidak pernah mengandalkan kami. Dia mencoba mencapai semuanya dengan usahanya sendiri," imbuh Irina.

Anna adalah satu dari 11 tersangka agen spionase yang mencoba menyusup pada lingkaran pembuat keputusan di AS dan melaporkan balik ke Moskow. Gaya spionase yang mirip terjadi pada Perang Dingin ini dikhawatirkan mengancam hubungan baik kedua negara. (nrl/fay)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini