Itulah yang saya rasakan sejak mendarat di Bandara Washington Dulles pada 3 Juli lalu.
Apalagi saat saya dan teman-teman melakukan tur ke sejumlah tempat bersejarah di Washington DC pada 5 Juli waktu setempat, kami kewalahan mendapat sengatan sinar matahari. Padahal saat itu jam masih menunjukkan pukul 10 pagi. Tak ayal, peluh pun mengalir deras.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya ini memang panas sekali, tidak biasanya seperti ini," kata wanita cantik itu.
Ya, musim panas di bulan Juli ini memang tidak seperti biasanya di Washington DC. Menurut statemen informasi publik yang dikeluarkan Dinas Cuaca Nasional Baltimore MD/Washington, DC, temperatur udara di bawah pukul 12 siang beberapa hari terakhir mencapai 35 derajat Celsius hingga 37,7 derajat celsius. Bahkan pada sekitar pukul 16.00 waktu setempat, cuaca semakin gerah dengan temperatur mencapai 40,5 derajat Celsius. Ini berarti memecahkan rekor pada tahun 1999 yang mencapai 38,3 derajat Celsius.
Jika pukul 4 sore saja masih terik, lantas mulai pukul berapa cuaca mulai bersahabat? Pukul 7 malam! Ya, baru di malam hari tersebut, matahari di Washington, DC tidak lagi membakar kulit. Meski tentu saja sinar matahari masih menerangi bumi layaknya waktu siang hari di Indonesia.
Duh... panasnya!
*Reporter detikcom Rita Uli Hutapea berada di AS dalam rangka mengikuti program International Visitor Leadership Program yang disponsori Departemen Luar Negeri AS.
(ita/nrl)











































