"Di masa kepemimpinan KH Ahmad Dahlan saat itu, Muhammadiyah adalah organisai yang memiliki sosok paling kharismatik," kata Pengamat Politik Islam dari Kangwon National University, Korea Selatan, Prof Hyung-Jun KimΒ dalam diskusi 'Masa Depan Muhammadiyah' di Ruang Media Center Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jl Ring Road Barat, Taman Tirto Bantul, Selasa (6/7/2010).
Kim mengatakan, pemimpin Muhammadiyah sekarang sudah tidak lagi menunjukkan sosok yang pemberani dan punya keteguhan pendirian. Muhammadiyah juga dinilainya kehilangan demokrasi dalam menyampaikan pemikiran-pemikirannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Kim menilai Muhammadiyah sejak sekarang harus kembali menciptakan kharismatik leader.
Apalagi di usia Muhammadiyah yang menuju dua abad, musti kian matang dan punya kelebihan.
"Jika tidak, akibatnya seperti yang terlihat sekarang ini. Muhammadiyah cenderung lemah dalam menentukan sesuatu, salah satunya terkait kepemilikan aset dan struktur keanggotaan," jelasnya.
Kim mencontohkan sistem keanggotaan Muhammadiyah yang terlalu adalah terlalu mengikat. Sehingga, ketika seseorang tokohnya keluar dari keanggotaan, Muhammadiyah seperti kehilangan arah.
"Sebenarnya masuk Muhamadiyah itu tidaklah susah, namun karena kurang kompak dalam keanggotaan akibatnya terjadi pembatasan terhadap setiap orang yang mau masuk dan terlihat keanggotan sekarang terlalu ketat. Harusnya bisa dibiarkan dia berjalan sesuai dengan kebebasannya, jangan terlalu di monitor," saran Kim.
Kim juga memandang calon Ketua Umum Muhammadiyah ke depan tidak akan membawa perubahan yang banyak terhadap Muhammadiyah.
"Yang terpenting adalah bagaimana dia bisa membawa dan menjalankan tugas yang telah diamanatkan warga Muhammadiyah selama ini. Karean saya yakin yang nanti pun tidak akan berbeda dengan yang sekarang," ucapnya.
(lia/gun)











































