Beredarnya isu bahwa pemilihan Ketua Umum PP Muhammadiyah akan dilakukan secara voting tidak dibantah Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah, Bachtiar Effendi, di Media Center Muktamar Muhammadiyah, kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), di Tamantiro, Bantul, Selasa (6/7/2010).
"Rumor voting itu memang ada. Meski voting tidak di larang di Muhammadiyah tapi sebaiknya tidak dilakukan," kata Bachtiar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu lanjut Bachtiar, hasil dari pemilihan oleh peserta muktamar juga menunjukkan hasil dengan selisih yang jauh antar calon. Memang ada rumor peringkat yang di bawah perolehan suara Din Syamsuddin yang ingin menjadi ketua umum.
Namun bila dilihat dari sisi lain, jarak peroleh suara antar satu calon dengan calon lainnya demikian jauh. Selisihnya sekitar 200-an suara. Hasil itu juga menunjukkan realitas keinginan pemilih atau muktamirin.
"Mudah-mudahan tidak terjadi. Dana saya yakin mereka semua paham kultur Muhammadiyah," ungkapnya.
Dia menegaskan muktamar Muhammadiyah adalah bukan memilih ketua umum tapi memilih 13 orang pimpinan pusat. Kepemimpinan di Muhammadiyah adalah kolegial bukan perseorangan sehingga musyawarah lebih diutamakan.
"Suka atau tidak hasil perolehan suara seperti itu. Sehingga 13 orang itu bisa dengan arif dan bijaksana menentukan ketua umum dengan musyawarah bukan voting," katanya.
Perlu diketahui 13 nama yang masuk anggota PP itu adalah Din Syamsuddin dengan suara terbanyak 1.915 suara. Selanjutnya Muhammad Muqoddas (1.650), A. Malik Fajar (1.562), A. Dahlan Rais (1.508), Haedar Nashir (1.482), Yunahar Ilyas (1.431), Abdul Mu'ti (1.322), Agung Danarta (1.034), Syafiq A. Mughni (952), Fattah Wibisono (942), Goodwill Zubir (931), Bambang Sudibyo (887) dan Syukriyanto AR (797).
(djo/djo)











































