"Kalau Ical punya filosofi tikus, itu kita hargai," ujar Bima usai diskusi penyederhanaan partai politik di Kantor Lingkar Madani, Jl Komplek Bumi Asri, Pancoran, Jakarta, Selasa (6/7/2010).
Bima menjelaskan sah-sah saja Ical menganut filosofi tersebut. Karena, setiap pemimpin parpol berhak menentukan apa yang terbaik untuk parpolnya. Namun filosofi ini tentunya tidak perlu dicontoh oleh papol lain.
"Misalnya Adhie Massardi ada filosofi lebah. Ya sah-sah saja," terang mantan pengamat politik ini.
Sebelumnya Ketum Partai Golkar Aburizal Bakrie berharap, kader-kader Golkar dalam berpolitik meniru gaya tikus. Tidak langsung menggigit, tapi mengendus terlebih dahulu.
"Kita politisi bekerja keras, main taktis. Jangan kemudian kita dalam permainan itu menggigit terus. Golkar harus berprinsip seperti tikus, mengendus, baru gigit," kata Ical dalam sambutannya di acara Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Wilayah Jawa-Bali-NTB Partai Golkar di Hotel Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Minggu (4/7/2010).
(rdf/fay)











































