"Saya dari Sambas, Kalimantan," kata Raden Trijaya Kesuma memperkenalkan diri, saat ditemui di sekitar makam, Sabtu (3/7/2010).
Perempuan usia 40 tahun tersebut tiba-tiba saja duduk di sekitar makam pada sebua kotak triplek yang tersimpan di sebelah gubuk.
Perempuan berperawakan kurus itu datang tidak seorang diri. Anaknya, Raden Fadhilah Putri Wijaya (6) ikut bersamanya. "Saya lihat di tivi semalam. Tiba-tiba saya langsung booking tiket penerbangan pertama ke Jakarta. Penasaran aja," katanya.
Diakuinya, belum pernah ia sepenasaran seperti ini ketika menyaksikan berita air yang keluar dari makam leluhur. Terlebih, air itu dikabarkan membawa berkah.
"Pingin dapat barokah, dipanjangkan usia, dilancarkan rizkinya," kata perempuan yang mengenakan sepatu sandal bermotif dayak ini.
Ia mengaku belum pernah ke makam-makam lainnya yang sering dikunjungi warga, misalnya, makam Mbah Priok. "Baru sekarang aja. Nggak tau kenapa pingin ke sini. Kayak ada yang narik," tutur perempuan yang akrab disapa Tri.
Tidak terlalu lama ia di makam tersebut, hanya sekitar 15 menit. Setelah berbincang dengan wartawan, ia langsung mengambil air dari selang yang ada di sekitar makam dan menampung satu botol air di dalam botol kemasan air mineral berukuran 500 mililiter.
"Saya nggak lama, kalau nggak sore ini, besok sudah terbang ke Kalimantan. Mudah-mudahan dapat berkah," harapnya.
Dari pantauan terakhir, sekitar pukul 16.00 WIB, masyarakat masih menyemut di lokasi sumber air. Mereka menampung air untuk dibawa pulang ke rumahnya masing-masing. Ada pula warga yang membawa balita dan memandikan anaknya.
"Biar dapat berkah," kata salah seorang warga Kramat Kwitang, Nanah (39).
(ahy/gah)











































