Kapolda Riau Baru Diminta Usut Kasus 'Kuansing Berdarah'

Kapolda Riau Baru Diminta Usut Kasus 'Kuansing Berdarah'

- detikNews
Rabu, 30 Jun 2010 17:40 WIB
Pekanbaru - Kapolda Riau yang baru dua hari menjabat Brigen Pol Suaedi Hussein, memiliki 'PR' untuk menyelesaikan kasus bentrokan polisi dan warga yang dikenal “Kuansing Berdarah”. Kasus ini menewaskan seorang ibu yang diduga terkena peluru polisi.

Lewat demo, aktivis Forum Mahasiswa Menggugat (Format) meminta kasus tersebut diusut tuntas.

Demo ini dilakukan para aktivis di Bundaran Air Mancur, Rabu (30/06/2010), Jl Sudirman, depan Kantor Walikota Pekanbaru. Para aktivis ini mendesak, agar Kapolda Riau yang baru menggantikan Brigjen Adjie Rustam Ramdja dapat mengusut dugaan keterlibatan pasukan Brimob Polda Riau dalam aksi bentrok di Kabupaten Kuansing beberapa waktu lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Bentrok berdarah itu menewaskan seorang ibu rumah tangga. Sampai saat ini Polda Riau belum menetapkan tersangkanya. Padahal sudah jelas, warga tewas karena ditembus peluru. Anehnya, Kapolda Riau yang lama tidak mengakui bahwa itu peluru milik Kepolisian,” kata Murdianto salah seorang dari aktivis.

Mereka juga mendesak Kapolda Riau yang baru ini untuk mencopot Kapolres Kuansing yang dianggap melindungi anggotanya dalam kasus bentrok tersebut.

“Aneh sekali, jajaran kepolisian selama ini menyebut, bahwa peluru yang menembus warga itu belum tentu milik Kepolisian. Padahal sudah jelas, saat aksi demo berlangsung, beberapa kali pihak Kepolisian meletuskan senjata,” tukas dia.

Mereka juga menyebut, bahwa aktivis dan sejumlah tokoh masyarakat di Riau telah mengumpulkan sejumlah bukti selongsong di tempat kejadian tersebut. Bukti adanya selongsong peluru itu juga sudah disampaikan ke Kapolda Riau sebelumnya.

“Tapi tetap saja, Kapolda yang lama bersikukuh tidak ada bukti kuat soal keterlibatan Brimob dalam kasus berdarah itu. Ini kan aneh, memang siapa lagi yang punya peluru dan senjata di negara ini,” kata mereka.

(cha/nwk)


Berita Terkait