Itulah nukilan kalimat yang terucap dari bibir mantan Presiden RI ke-3 BJ Habibie saat mengenang kisah cintanya dengan almarhumah Ibu Hasri Ainun Habibie. Sebuah kisah cinta dan kesetiaan yang dikagumi oleh banyak orang.
Dalam acara peringatan 40 hari meninggalnya Ibu Ainun itu, Habibie tampak bergelora menceritakan kembali 48 tahun kebersamaannya dengan sang istri. Karena telah terpatri, Habibie menyebut antara dirinya dengan Ainun ditakdirkan menjadi manunggal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat menyampaikan kenangannya bersama almarhumah di kediamannya, Jl Patra Kuningan XIII, Jakarta Selatan, itu, Habibie didampingi oleh putranya, Ilham Habibie. Seluruh peserta pengajian tampak menyimak dengan takzim.
Habibie berkeyakinan, meski istri yang sangat dicintainya telah tiada, bukan berarti ia kini kehilangan. Ia merasa Ainun hadir setiap saat di dalam dirinya.
"Oleh karena itu doa saya saya restructure. Ya Allah, lindungilah Ainun, di manapun dia berada. Tempatkanlah Ainun di sisi-Mu, dan berikan Ainun kekuatan, kesabaran, ketentraman, pertolongan dan kenikmatan di sisi-Mu, ya, Allah," pinta Habibie.
Habibie juga berdoa diberi kekuatan untuk melaksanakan hal-hal yang belum dapat terwujud dalam sisa kehidupannya ini.
"Jika saat tiba waktunya saya sudah bisa melaksanakan itu semua, dan Engkau berpendapat saya boleh pulang, pulangkanlah ke rumah saya. Rumah saya adalah di tempat di mana Ainun sudah mendahuluinya," kata pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936, ini.
Ainun dipersunting Habibie pada 12 Mei 1962. Dari pernikahan itu, pasangan ini dikaruniai 2 orang anak yaitu Ilham dan Thareq Kemal, serta enam orang cucu. Ainun meninggal dalam usia 72 tahun pada Sabtu (23/5/2010) di Rumah Sakit Ludwig-Maximilians-Universitat, Klinikum Gro`hadern, Munich, Jerman.
Selanjutnya, jenazah dimakamkan pada 25 Mei di TMPN Kalibata, Jakata selatan.
(irw/anw)










































