"Tidak benar jika kami (FPI) yang melakukan itu, tidak ada orang kami saat insiden itu," kata juru bicara FPI, Munarman kepada detikcom, Selasa (29/6/2010).
Dari rilis yang diterima detikcom, gabungan beberapa elemen ini mencoba mengklarifikasi atas stigma yang meyatakan bahwa FPI telah membubarkan kunjungan kerja anggota DPR di Banyuwangi pada hari Jumat (25/6) lalu. Berikut kronologi yang disampaikan mereka pada saat pra insiden hingga pasca insiden.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keesokan harinya Jumat (25/6), gabungan beberapa elemen ini pun mencoba mengecek kebenaran tentang kegiatan itu dengan mengirimkan satu perwakilan mereka untuk mengikuti kegiatan itu. Dan hasilnya menurut mereka lebih dari 70 orang yang hadir, dimana tiga di antara anggota DPR (Riebka Tjiptaning, Rieke Diah Pitaloka dan Nur Suhud) memberikan paparan yang berbau ideologi.
Melihat ada yang tidak beres, akhirnya gabungan elemen masyarakat ini medatangi langsung lokasi acara tersebut, meskipun menurut mereka sebelumnya telah mencoba mengkonfirmasi tentang kegiatan tersebut pada Kapolres Banyuwangi agar kegiatan itu dibubarkan. Merasa tidak ingin kecolongan dengan kegiatan yang berbau ideologi itu, akhirnya elemen ini membubarkan pertemuan itu.
Salah satu alasan mereka membubarkan kegiatan itu adalah yang hadir pada kegiatan itu, 60 persen merupakan eks PKI yang berselubung di bawah naungan "Paguyuban Layar Kumendung" pimpinan Slamet AR yang juga hadir dalam acara itu. Selain itu kenapa pengusiran dilakukan juga pada anggota DPR yang saat itu melakukan kunjungan kerja, menurut mereka, jika memang itu sosialisasi 'Rumah Sakit Gratis Tanpa Kelas' kenapa yang hadir sebagian besar adalah orang-orang mantan PKI.
Aksi itu dilakukan karena mereka yakin ideologi komunis tidak pantas hidup lagi di Indonesia. Dan kegiatan itu salah satu cara untuk menghidupkan kembali gerakan laten komunis.
(lia/anw)











































