"Buat apa kita memborong?" tanya Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang di kantornya, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (29/6/2010).
Edward mengatakan, saat ini sudah tidak mungkin main 'bungkam-bungkaman' lagi. Lagipula, memborong majalah juga tidak efektif.
"Sekarang mana bisa bisa bungkam-bungkam," kata Edward.
Sebelumnya diberitakan pada Senin 28 Juni, majalah Tempo yang membahas soal rekening gendut jenderal polisi diborong oleh seorang berseragam polisi yang mengendarai mobil dinas polisi.
Sementara di Pasar Senen, seorang pria berpistol juga memborong 1.200 eksemplar majalah yang sama. Majalah-majalah itu dimasukkan ke dalam bajaj.
Karena banyak dicari, majalah Tempo yang membahas soal rekening gendut sejumlah perwira tinggi di Polri itu dicetak ulang. Harga majalah pun naik menjadi Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu. Bahkan sejumlah penjual memfotokopi majalah tersebut dan dijual Rp 10 ribu.
(ken/ndr)











































