Oleh karena itu, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Amien Rais meminta warga Muhammadiyah untuk khusnudzon atau berbaik sangka atas
ketidakhadiran secara langsung presiden SBY itu.
"Kita harus khusnudzon atau berbaik sangka. Tidak boleh suudzon atau berburuk sangka. Mosok mau umroh tidak boleh," ungkap Amien saat dialog publik 'Kepemimpinan Muhammadiyah & Kepentingan Politik' yang diselenggarakan LP3M Muhammadiyah di Asri Medical Center (AMC) di Jalan HOS Cokroaminoto, Yogyakarta, Selasa (29/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pembukaan akan dilakukan dari sana," katanya.
Namun secara kalkulasi politik, imbuh Amien, hal itu dapat dilihat ada sesuatu yang salah atau kurang pas. Dia mengakui adanya ketidakharmonisan antara SBY dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin saat pemilihan presiden lalu yang lebih condong ke Jusuf Kalla.
"Alasan SBY itu juga multitafsir. Memang ada yang khusnudzon, semi kusnudzon, atau malah ada yang suudzon. Salahnya kenapa saya tidak tahu, Wallahualam," jawab Amien.
Hal senada juga dikatakan oleh pengamat politik Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta (UMY), Prof Dr Bambang Cipto. Ketidakhadiran SBY dalam pembukaan
muktamar lebih dilatarbelakangi oleh sikap Muhammadiyah yang mendukung JK. Sikap yang ditunjukkan SBY adalah sebuah bentuk eksplosif politik yang tidak bisa hilang begitu saja.
"Ini beda dengan di Barat, orang tidak setuju, tidak suka akan cepat selesai. Sedang di kultur kita orang Indonesia, hal itu tidak bisa seperti itu dan akan terus dibawa," pungkas dia.
(bgs/nwk)










































