"Konfederasi bertujuan menghadapi pemilihan legislatif. Koalisi untuk pemilihan presiden, sejumlah parpol bersatu untuk mendukung satu pasang capres-cawapres," jelas Burhanudin Muhtadi, kepada detikcom, Senin (28/6/2010).
Bentuk akhir dari konfederasi juga berbeda jauh dengan koalisi. Identitas masing-masing anggota koalisi sama sekali tidak terusik, sebaliknya di konfederasi akan melebur dan menghasilnya bendera yang baru sama sekali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut dia menyebut Barisan Nasional (Barnas) di Malaysia sebagai contoh konfederasi yang sudah ada. Di dalam Barnas tergabung sejumlah parpol dengan ciri khas berbeda-beda namun saling menguatkan, seperti partai berbasis massa etnis Cina dan Melayu.
"Saat pemilu, partai berbasis Melayu berkampanye kepada etnis Melayu dan yang Cina ke etnis Cina. Sehingga lebih banyak daerah yang bisa dicakup oleh Barnas untuk mendongkrat suaranya," papar dia.
Di dalam kasus konfederasi ala PAN gagas, strategi itu bisa ditiru dengan merekrut parpol kecil yang punya basis kekuatan pendukung signifikan di daerah tertentu. Misalnya dengan Partai Bintang Reformasi (PBR) yang cukup solid di DKI Jakarta dan Kalimantan Selatan untuk menggarap daerah pemilihan itu dengan kompensasi peluang bagi kadernya duduk di DPR-RI.
"Jadi sebenarnya ada hubungan mutualisme, PAN mendapat tambahan suara sedangkan partai kecil bisa ikut pemilu dan menempatkan kadernya di DPR nasional," imbuh Burhanuddin. (lh/gah)











































