Pantauan detikcom, Sabtu (27/6/2010), ketatnya pengamanan ini terlihat di kawasan International Media Centre (IMC) dan di hotel-hotel tempat para kepala pemerintahan/negara menginap. Kawasan red zone, yang merupakan kawasan ring I, disterilkan.
Pintu-pintu ke pelabuhan di Harbour Front ditutup. Harbour Front merupakan kawasan yangย sangat dekat dengan hotel Westin, Intercontinental, dan Fairmont, yang merupakanย hotel-hotel tempat para kepala pemerintahan/negara yang menjadi anggota G20 menginap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semua kapal dan boat diparkir di pinggir pelabuhan.ย
Wartawan Indonesia yang ingin meliput kegiatan Presiden SBY juga tidak sebebas sepertiย dalam penyelenggaraan KTT G20 di negara-negara lain sebelumnya. Untuk menuju Hotel Westinย Harbour Castle, tempat Presiden SBY melakukan pertemuan bilateral dengan sejumlahย pimpinan negara, wartawan juga diatur oleh liasion media officer dari pemerintah Kanada.
Terkesan sangat protektif dan terlalu ketat. Wartawan Indonesia, yang memiliki ID card untuk peliputan KTT G20 tidak bisa bebas masuk ke Hotel Westin. Wartawan masuk ke Westin harus melalui satu pintu, diantar oleh bus dari International Media Centre (IMC) dengan diantar oleh liasion officer media dari pemerintah Kanada. IMC merupakan pusat media center untuk peliputan KTT G8 dan KTTG20.
Para wartawan Indonesia pun diperiksa sangat ketat, seperti pemeriksaan terhadap orang yang dicurigai sebagai teroris. Semua barang bawaan diperiksa secara fisik dan melaluiย metal detector.
Semua barang yang melekat di badan juga diperiksa. Sabuk harus ditanggalkan. Jas juga. Petugas keamanan juga meminta wartawan membuka sepatu dan kaos kaki. Sungguh sangat ketat.
Setelah diperiksa dengan ketat, para wartawan baru boleh menaiki bus yang disediakan panitia untuk membawanya ke hotel Westin. Perjalanan dari IMC ke hotel Westin memakan waktu sekitar 20 menit. Meski sudah diperiksa ketat sebelum memasuki bus, para wartawan pun tetap dikawal secara ketat saat masuk ke hotel Westin.
Wartawan Indonesia tidak boleh berkeliaran, termasuk di lobi, meski di tempat itu banyak sekali delegasi Indonesia. Wartawan digiring dan 'disekap' di sebuah ruangan. Wartawan tidak diizinkan untuk keluar ruangan.
Untuk ke toilet saja, wartawan harus berdebat dengan liasion officer dan petugas keamanan. Akhirnya, wartawan yang ingin buang hajat, dikawal. "Saya kencing di urinoir dan petugas sekuriti yang garang itu berdiri di belakang saya," kata salah seorang wartawan Indonesia.
Kebetulan, saat wartawan diasingkan di sebuah ruangan, berlangsung siaran Piala Dunia diย televisi antara kesebelasan Ghana dan Amerika Serikat (AS). Wartawan yang ingin menyaksikan siaran pertandingan bola secara live di televisi di lobi hotel, juga tidakย diperbolehkan. Padahal, jarak antara ruangan dengan lobi hotel hanya 10 meter saja.
"Ini keterlaluan. Sangat aneh. Masak nonton sepakbola saja tidak boleh. Padahal saya hanya duduk 2 meter dari pintu ruangan," ujar salah seorang wartawan yang penggila bola itu.
Wartawan baru diperbolehkan beranjak dari ruangan itu, setelah liaison media officer dari Kanada, yang seorang perempuan itu memberikan izin untuk keluar dan menuju ruang tempatย Presiden SBY menggelar pertemuan. "Ini pengalaman paling buruk saat melakukan liputan KTT G20 selama ini," ujar seorang wartawan yang sudah berkali-kali melakukan liputan KTT G20.
(asy/asy)











































