"Figur seperti Pak Hoegeng yang dibutuhkan. Berintegritas, independen, memiliki moral yang baik, ketegasan dan teladan kepemimpinan," kata pengamat kepolisian, Bambang Widodo Umar saat dihubungi detikcom, Sabtu (26/6/2010).
Kalaupun tidak mendapatkan figur seperti Hoegeng, minimal Kompolnas mencari figur yang mendekati Kapolri periode 1968-1971 itu. Apalagi tantangan Polri cukup berat bagi Kapolri untuk menjalankan reformasi organisasi terkait sejumlah peristiwa besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jenderal Hoegeng adalah sosok Kapolri yang dikenal bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Terbukti, memasuki masa pensiun, ia tidak punya simpanan apa pun. Untunglah para kerabatnya menghadiahinya rumah dan mobil.
Kejujuran Jenderal Hoegeng membuatnya menjadi sosok teladan serta disegani lawan dan kawan. Bahkan sampai-sampai ada guyonan di masyarakat, hanya ada dua polisi yang tidak bisa disuap, yaitu Hoegeng dan polisi tidur.
Saat memasuki masa pensiun, Hoengeng ditawari menjadi duta besar di Belgia. Namun tugas itu ditolak karena merasa tidak cocok dan lebih suka tinggal di negeri sendiri. Lulusan pertama Akademi Kepolisian (1952), ini meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Rabu 14 Juli 2004.
(ndr/lh)











































