"Tidak kecewa, bangga malah. Dengan demikian penghargaan Bakrie Award mendapatkan promosi gratis," ujar Ical sapaan akrab Aburizal.
Hal ini disampaikan Ical seusai diskusi publik bertema 'Setgab partai koalisi, dampaknya bagi perkembangan demokrasi di Indonesia' di Gedung Epicentrum, Kompleks Bakrie, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Kamis malam (24/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu persis seperti Jean-Paul Sartre. Waktu itu Jean tidak menerima hadiah nobel. Hadiah nobel menjadi makin terkenal," kata mantan Menkokesra ini.
Ical jutru menuding langkah GM mengembalikan Bakrie Award sebagai upaya untuk mendapatkan simpati masyarakat dan menaikan popularitasnya. "Bahwa seorang sekaliber Goenawan Mohamad menggunakan award ini untuk mempopulerkan dirinya dan mendapatkan political score," tutupnya.
Alasan GM mengembalikan award yang sudah disimpannya selama 6 tahun karena memuncaknya persoalan Sri Mulyani dan Boediono. Tokoh 'Majalah Tempo' ini menilai serangan terhadap Sri Mulyani dan Boediono adalah skenario dari Bakrie.
"Bagi saya memuncaknya itu waktu persoalan Sri Mulyani dan Boediono. Di mana mereka diserang dan dimanipulasi sedemikian rupa. Bukan masalah jabatan mereka tapi karena saya tahu mereka tidak bersalah, mereka dihukum dan dikorbankan dan saya tahu Bakrie ada di belakang itu semua," ujar GM Selasa 22 Juni lalu.
(did/nwk)










































