Ali Abdullah Mengaku Tidak Tahu Menahu Terorisme

Kasus Terorisme

Ali Abdullah Mengaku Tidak Tahu Menahu Terorisme

- detikNews
Kamis, 24 Jun 2010 20:42 WIB
Jakarta - Ali Abdullah (59), terdakwa teror yang dituntut 9 tahun penjara mengaku tidak tahu menahu jaringan teror Marriot-Ritz Carlton seperti dituduhkan jaksa. Lelaki asal Arab Saudi ini pun meminta maaf karena ketidaktahuannya, hibah yang diberikan ke Iwan Herdiansyah diselewengkan untuk kegiatan teroris Saifudin Zuhri (ditembak mati Densus 88 di Ciputat).

"Saya bersumpah demi Allah saya tidak terlibat terorisme. Saya tidak mungkin merusak citra baik negara saya. Saya sudah sepuh, mendekati 60 tahun. Baru-baru ini saya diberkati 2 cucu dan saya belum melihatnya," kata Ali Abdullah Al Khelewi lewat penterjemahnya dalam pembelaan di PN Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Kamis (24/6/2010).

Awalnya, Ali ke Indonesia untuk berlibur di kawasan Puncak, Bogor. Di bandara, ia bertemu Saifudin Zuhri yang menawarkan diri sebagai guide. Lalu, Zuhri membawa Ali berjalan-jalan ke kawasan Puncak, Sukabumi, Tasikmalaya hingga Kuningan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah merasa nyaman, Ali berinisiatif membuka usaha warnet. Lalu Zuhri mengenalkan ke Iwan yang akan bertugas mengelola warnet tersebut.

Tanpa diketahui Ali, uang Rp 55 juta sebagai modal membuka warnet yang diserahkan ke Zuhri diselewengkan untuk biaya teror. Seharusnya, uang itu diteruskan ke Iwan sebagai modalย  membuka warnet.

Nah, uang inilah yang dipergunakan jaksa untuk menjerat Ali. Sebab, jaksa meyakini uang tersebut dipergunakan untuk operasi pengeboman Marriot-Ritz Carlton.

"Saya menolak tuduhan tersebut. Saya tidak pernah memberi fee kepada Saefudin. Dalam kontrak yang saya tandatangani, tidak ada kesepakatan pemberian fee ke Saefudin," imbuhnya.

Liburan Ali berakhir saat Densus 88 Anti Teror menangkapnya di Tasikmalaya, Agustus tahun lalu. Ia lalu dijebloskan ke penjara Mako Brimob Kelapa Dua, Depok yang pengap, penuh kecoa dan kucing kotor.

"Saya mengaku bersalah karena melanggar UU Keimigrasian. Saya minta maaf karena ketidaktauan saya ini," tutur pria yang di negaranya merupakan guru sejarah di sekolah pemerintah.

(Ari/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads