"Jelas kita nggak setuju sama usulan itu, itu usalan konyol," kata seorang pengemudi metromini, Yakin Simangunsong, saat berbicang dengan detikcom, di Terminal Bus Kampung Rambutan, Kamis (23/6/2010).
Menurut supir metromini 76 jurusan Blok M - Kampung Rambutan ini, usulan tersebut akan mengurangi pendapatan bersihnya. Apalagi mahalnya seteron dan biaya solar saat ini, membuat pandapatannya hanya cukup untuk makan dan sekolah anak saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang sebaiknya dilakukan pemerintah, kata dia, saat ini adalah menekan jumlah penggunaan motor. Karena menurutnya sejak makin banyak pengguna motor di Jakarta, para penumpang mereka mulai sepi.
"Waktu tahun 90-an belum banyak motor pendapatan kita lumayan, sekarang? Jadi yang bagus itu penggunaan motor yang ditekan," jelasnya.
Kalaupun rencana itu tetap terealisasi, dia berharap ada timbal balik antara kenyamanan penumpang dan kesejahteraan sopir. "Kalau mau ongkos naik ya nggak apa-apa, kita supir mana mau rugi," ujar dia.
Serupa dengan Yakin, supir minibus lain, Deddy S, Kundang merasa usulan itu tidak memihak kepada nasib para sopir umum ini.
"Kita nggak maulah, motor aja yang dikurangin kalau kita yang dibatasin, kita minta dinaikin ongkos aja. Sekarang mau nggak penumpangnya," papar Kundang.
"Tapi kalau pemerintah udah bilang gitu, ya udah mau nggak mau kita pasti harus ngikut," lanjut dia.
Sopir Bus Kuantas Bima, Arnet, saat ditemui di tempat yang sama, juga tidak setuju dengan usulan itu. Pemerintah, tambahnya, suka membuat usulan yang tidak ada pemikiran panjangnya ke depan.
"Itu sih usulan seenak udel, gimana cara kita bisa nutup setoran sama pemilik dan beli solar, kalau penumpang dibatasi," ujar Arnet dengan nada kesal.
Dia menambahkan, para pengemudi bisa semakin mencekik leher dengan usulan itu. "Sekarang saja kita sudah kencangkan ikat pinggang, masa harus sampai cekik leher lagi," pungkasnya.
(lia/anw)










































