Rayahan Gunungan, Beberapa Orang Terinjak Massa
Minggu, 02 Mei 2004 14:44 WIB
Yogyakarta - Terdorong ingin memperoleh berkah hajat dalem Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat berupa Gunungan Grebeg Mulud dalam rangka peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, sejumlah orang, terutama ibu-ibu dan anak-anak, terinjak-injak.Hal itu diakibatkan ribuan orang saling berdesakan dan saling dorong untuk merangsek ke depan ketika hendak merayah empat buah gunungan yang ada di halaman masjid besar Kauman Yogyakarta.Dalam prosesi Gerebeg Mulud Tahun Wawu berdasarkan penanggalan Jawa yang berlangsung hari Minggu (2/5/2004) siang, Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat mengeluarkan lima buah gunungan yang sering disebut Pareden Hajat Dalem. Empat gunungan masing-masing Gunungan Kakung, Estri, Pawuhan dan Gepak, yang diperebutkan di halaman masjid besar Kauman. Satu buah Gunungan Kakung diperebutkan di lapangan Sewandanan Kadipaten Puro Paku Alaman.Ribuan warga Yogyakarta dan wilayah Kedu sejak pagi sudah memadati dan berdesak-desakan di halaman Keben tempat diletakkannya kelima buah gunungan itu. Kerumunan massa itu tidak hanya terpusat di sekitar masjid besar Keraton saja, tetapi juga di sepanjang rute keluarnya Gunungan terutama di depan Pagelaran Kraton. Ribuan warga rela berdesak-desakan untuk melihat keluarnya gunungan sehingga sempat merepotkan petugas keamanan saat mengamankan jalannya prosesi.Acara prosesi gerebeg Mulud hari ini dimulai sejak pukul 08.00 WIB yang ditandai bersiapnya delapan bregada prajurit kraton yang dipimpin adik Sultan HB X yaitu GBPH Yudhaningrat selaku manggalayuda prajurit, di Keben dekat Bangsal Ponconiti.Tepat pukul 09.00 WIB setelah mendapat perintah dari Sultan, dilakukanlah kirab prajurit kraton menuju Pagelaran melewati Siti Hinggil Kraton. Kirab yang dipimpin oleh Manggalayudha prajurit GBPH Yudhaningrat dengan komandan lapangan Angkaramurti diawali oleh prajurit Wirobraja, Daeng, Prawirotomo, Ketanggung, Patangpuluh, Mantrijero, Jogokaryo dan Nyutro.Selanjutnya setelah prajurit dinyatakan siap dengan ditandai laporan komanda upacara kepada manggalayudha prajurit, kelima buah gunungan siap diarak keluar kraton dengan dikawal dua bregada (brigade) prajurit Bugis dan Surokarso.Tepat pada saat gunungan tersebut keluar dari pagelaran dilakukanlah tembakan salvo tiga kali oleh parjurit. Empat buah gunungan dibawa ke masjid besar dan satu gunungan ke Puro Pakualaman yang berjarak sekitar 2 kilometer. Gunungan tersebut dikawal pasukan gajah dan dua bregada prajurit Puro Pakualaman, Lombok Abang dan Plangkir.Ketika keempat buah gunungan itu dibawa menuju halaman Masjid Gedhe Kauman, ribuan warga sudah tak sabar ingin memperebutkan berkah hajat dalem gunungan. Utamanya setelah rombongan abdi dalem Pamethakan (ulama kraton) menghadap penghulu masjid yakni KRT Kamaludiningrat untuk didoakan.Tak SabarEmpat buah gunungan diletakan di kanan kiri pintu masuk masjid besar berjejer dari utara ke selatan. Meski sudah diperingatkan agar tidak merayah sebelum doa selesai dipanjatkan, banyak orang yang tak sabar ingin mendapatkannya. Tanpa dikomando, dalam waktu sekejap keempat gunungan itu habis dirayah warga yang dipercaya akan mendatangkan berkah bagi yang memiliknya. Bahkan para abdi dalem yang mengusung kempat buah gunungan itu sempat ada yang terdorong hingga jatuh.Sedangkan di Puro Pakualaman, sebelum diperebutkan warga, juga dilakukan serah terima dari para bupati utusan Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat kepada wakil wakil Kadipaten Pakualaman. Beberapa anggota kerabat Pakualaman mengambil beberapa sebagian kecil gunungan hajat dalem berupa sepotong kacang panjang, telor asing, lombok merah, dan entho-entho. Selanjutnya gunungan itu dibawa ke lapangan Sewandanan untuk diperebutkan kepada warga sekitar.
(nrl/)











































