"Kami memang tatoan, gondrong tapi kami bukan preman, kami ini seniman jalanan," ujar salah seorang anggota Forum Senja Iwan Uban kepada wartawan.
Hal ini ia sampaikan saat dia dan beberapa perwakilannya ditemui oleh Satpol PP DKI di Crisis Center, Balaikota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Kamis (24/6/2010).
Selain menolak penangkapan terhadap para pengamen, mereka juga mempertanyakan pembinaan yang diberikan kepada para pengamen yang terjaring dalam operasi praja tersebut.
"Itu bukan pembinaan, itu bukan panti sosial (Kedoya) tapi rumah tahanan karena tidak ada pembinaan," terang pria gondrong dan bertato di sekujur tangannya ini.
Para pengamen ini pun meminta Pemprov DKI menyediakan sarana lain untuk mencari nafkah. "seharusnya nasib kami juga dipikirkan, kita minta diberi wadah agar kami bisa mencari nafkah. Kami juga tidak pernah bercita-cita jadi pengamen," tutupnya.
Dalam operasi praja yang dilakukan oleh satpol PP DKI, Dinas perhubungan, Dinas Sosial dan pihak kepolisian berhasil menjaring 640 pengamen dan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) lainnya. Operasi ini dimaksudkan untuk menciptakan rasa aman dan nyaman bagi pengguna transportasi umum di DKI.
(her/fay)











































