"Saya belum bertemu dengan yang nabrak. Keluarga nggak mau nuntut atau apa. Keluarga hanya ingin keluarga dia minta maaf karena kita tahu Kai Fin lagi sakit," ujar adik Atin, Aminah, pada detikcom, Rabu (23/6/2010).
Menurut Aminah, perwakilan PDIP sudah datang untuk melihat kondisi Atin. Namun Aminah tidak mengenalnya.
Aminah menuturkan keluarga sudah mengikhlaskan wanita 47 tahun itu mengahdap Tuhan. "Keluarga sudah rela dan ikhlas. Biar jalannya gampang, biar diterima amal ibadahnya," kata Aminah.
Atin dan Imam adalah dua dari 43 peserta gerak jalan PDIP yang diserempet pengemudi Terios, Kai Fin Tanoto, pada Minggu 20 Juni sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu peserta gerak jalan berada di posisi 100 meter menjelang finish di Pintu Barat Senayan. Tiba-tiba muncul Terios hitam yang kehilangan kendali dan menabrak para peserta gerak jalan berkaos merah tersebut.
Atin, warga Srengseng Sawah, menderita luka terparah. Dia mengalami pendarahan otak. Semula dia dirawat di RSAL Mintohardjo sebelum akhirnya dirujuk ke RSCM. Saat ini kondisinya kritis dan hanya bergantung pada obat/alat medis. Sedangkan Imam menderita patah tulang belakang dalam insiden itu.
Sementara Kai Fin dirawat di RS PIK, Jakarta Utara, karena menderita luka. POlisi menyatakan, saat kejadian, Kai Fin tidak sedang sehat. Tetangganya di Taman Sari menyebutkan Kai Fin memiliki kelainan mental. Polisi telah menetapkan status tersangka pada pria 37 tahun yang memiliki SIM pada 2008 itu.
(nik/nrl)











































