Penampilan kelompok SDM tersebut merupakan kerjasama antara pihak Museum Etnologi, khususnya Kepala Bagian Insular Asia Tenggara dengan KBRI/PTRI Wina.
Seniman pantomim Indonesia ini sebenarnya datang ke Eropa untuk berpartisipasi pada acara Festival Internasional Istropolitana Projekt 2010 di Bratislava, Slovakia pada 18-20 Juni 2010 lalu. Rombongan ini juga sempat dijamu makan malam oleh duta besar Indonesia untuk Slovakia, Harsha Joesoef, sehari sebelum menggelar pertunjukan penutupannya di Kota Wina.
Dalam rangkaian turnya, kelompok SDM ini membawakan penampilan yang diberi judul “Broom in Hand”, yang mengangkat tema tentang pemanasan global. Penampilan tersebut bersifat kontemporer dan sangat artistik dengan gerakan-gerakan pantomim yang dinamis, penggunaan kostum dan musik latar yang menarik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya pimpinan rombongan, Didi Petet yang sekaligus merupakan pengasuh kelompok pantomim SDM, tidak bisa hadir pada pertunjukan ini karena harus kembali ke tanah air. Namun demikian empat pemain pantomim: Stefanus Hermawan Kristyan, Yehuda Gabrielita, Abdullah Rahman, Abu Bakar tetap bisa memukau pengunjung yang hadir.
Penampilan mereka didukung oleh Yayu Aw Unru (sutradara), Rama Sastra (production manager), Dante Birkud (lighting designer) dan Fahmi al-Attas (penata musik) yang keseluruhannya berasal dari Institut Kesenian Jakarta.
Kesempatan tersebut merupakan pertama kalinya kelompok SDM tampil di Wina. Penampilan kelompok SDM pada 21 Juni 2010 selain ikut memperkaya pertunjukan seni yang telah berlangsung di Museum Etnologi Wina, juga menunjukkan bahwa seniman muda Indonesia juga piawai dalam berbagai jenis kesenian, termasuk seni pantomim.
(anw/anw)











































