"Ada tukang pijat tuna netra, ternyata dia menjadi pengedar ganja," ujar Kepala BNN, Gories Mere di acara Hari Anti Narkotika Internasional di Hotel Bidakara, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (22/6/2010).
Gories menjelaskan tukang pijat tuna netra itu disuruh jaringan peredaran ganja untuk ikut memasarkan ganja pada klien pijatnya. Menurutnya, siapa yang menyangka jika tuna netra ikut terlibat peredaran narkoba.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ternyata di kaki palsu itu ada sabu," tambah Gories.
Menurut Gories, para pengedar ini akan melakukan segala cara untuk mengedarkan barang haram ini di Indonesia. Keuntungan yang luar biasa menjadi alasan mereka.
"Kalau di Iran satu kilo sabu berharga Rp 100 ribu, di Indonesia harganya Rp 2 miliar. Sekarang malah sabu di Iran turun harganya jadi Rp 50 juta karena barangnya sulit keluar," paparnya.
(rdf/fay)











































