"Wah, masa sih ini daun-daunan," komentar Isti, (24), warga Cengkareng saat mengunjungi stan Pemkot Jakarta Pusat di arena Pekan Raya Jakarta Hall A, Sabtu, (19/6/2010).
Jika diamati lebih teliti, ternyata benar kebaya tersebut terbuat dari dedaunan alam. Untuk baju kebaya dari jewawut warna hijau di modifikasi sedemikian rupa menjadi kebaya ala None Jakarte. Lantas sebagai motif, digunakan bunga mortel yang bentuknya bulat-bulat ungu kecil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk kebaya digunakan daun cissus nodosa, semacam daun pohon cemara jarum yang telah berwarna cokelat. Lalu, sebagai motif 'jarit' ini, dipakai kulit buah Angsana yang berbentuk bulat bermotif.Β
Untuk mempercantik lagi, dipasang buah Dewa kering dan Pekak yang motifnya bergelombang bulat kecil. Belum cukup itu saja, untuk ujung baju di pergelangan tangan di gunakan Kadaka Kering, seperti bekas pelepah kering warna cokelat.
"Semuanya dari dedaunan yang mudah didapat," tambahnya.
Adapun untuk hiasan kepala, mengenakan topi bundar dengan ujung menjuntai. Topi mengggunakan bunga mortel yang disusun teliti sehingga muncul motif berselang-seling. "Ini nggak bisa dipakai, namanya juga buat hiasan," pungkasnya.
(asp/lrn)











































