"Saya kuatir terjadi bottle necking. Tenaga dan ide besar dari bawah tidak mampu diterjemahkan dengan baik oleh Sekjen," kata Yunarto Wijaya, pengamat politik dari Charta Politica, Yunarto Wijaya, kepada detikcom, Kamis (17/6/2010).
Kepengurusan yang lebih dari separuh berisi tenaga plus dan banyak di antaranya adalah tokoh aktivis dengan jelas menyiratkan kesungguhan program tranformasi PD. Ketum DPP PD Anas Urbaningrum ingin menunjukkan bahwa PD tidak cuma SBY, melainkan juga partai bertenaga SDM penuh ide progressif dan kritis sebagai syarat partai modern.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayang sekali semangat progresif itu justru menjadi cacat dengan keberadaan Ibas -nama kecil Edhi Baskoro Yudhoyono- di posisi Sekjen. Pertama, karena Ibas adalah putra SBY sehingga menguatkan lagi politik restu dan budaya feodal yang sebenarnya berhasil PD tanggalkan dengan kemenangan Anas Urbaningrum dalam Kongres II PD bulan lalu.
Faktor berikutnya, fakta bahwa Ibas belum cukup teruji prestasi, mentalitas dan kualitasnya sebagai seorang politisi. Namun demikian sudah mendapatkan lompatan karir politik sedemikian dahsyat dengan ditugaskan sebagai Sekjen
DPP PD 2010-2015.
Empat orang wakil sekjen yang mendampingi Ibas, menurut Toto indikasi jelas sebenarnya Ibas belum mampu mengemban tugas sekjen yang merupakan jembatan ekternal dan internal seorang ketua umum dalam menerjemahkan ide-ide besar partainya. Patut disayangkan bila akhirnya Ibas pada prakteknya hanya menjadi 'kepajangan' PD.
"Saya kritik keras yang berkata 'Ibas kan didampingi beberapa wasekjen', untuk apa menghamburkan banyak tenaga untuk seseorang yang baru belajar? Posisi sekjen terlalu strategis untuk jadi tempat belajar. Ibas bisa menjadi cacat di tengah prestasi, maka harus ada penjelasan yang rasional dari Anas," tegas Toto.
(lh/irw)











































