Demikian benang merah pidato Duta Besar RI untuk Republik Mesir A.M. Fachir dalam malam Peringatan 63 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Mesir di Opera House, Kairo (11/6/2010).
Hadir antara lain Menteri Pendidikan Tinggi, Menteri Kebudayaan, Wakil Menteri Luarnegeri, Wakil Menteri Kerjasama Internasional, Wakil Menteri Wakaf, anggota parlemen Mesir, dubes negara-negara ASEAN di Kairo dan Menneg Koperasi dan UKM RI Syarif Hasan dan rombongan, serta 1000 undangan berbagai kalangan yang memadati gedung opera terbesar di Mesir tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hubungan Indonesia-Mesir yang sudah terjalin baik saat ini hendaknya dapat kembali semakin mesra seperti masa lalu, ketika era kedua pemimpin yakni Soekarno-Gamal Abdul Nasser," tegas Fachir.
Dengan artikulasi bahasa Arab nan fasih, intonasi dan diksi yang memukau, Dubes Fachir memaparkan hubungan sangat harmonis antara presiden Soekarno-Nasser, ditandai dengan kunjungan Soekarno dalam masa jabatan kurang dari sepuluh tahun sudah 6 kali ke Mesir dan Nasser ke Indonesia dalam kapasitas sebagai Perdana Menteri dalam KAA Bandung yang kemudian melahirkan Gerakan Non-Blok.
Sejarah juga mencatat bagaimana Mesir berperan besar dalam mendukung kemerdekaan Indonesia, dari sejak Abd Al-Rahman Azzam Pasha (Sekjen pertama Liga Arab, red) yang fokus membantu dan menggalang dukungan Timur Tengah untuk mengakui kemerdekaan Indonesia.
Diungkapkan juga bahwa kedekatan hubungan bangsa Indonesia dengan Mesir bahkan sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, melalui para mahasiswa Indonesia yang belajar di Al-Azhar, terbukti dengan prasasti Ruang Jawi, suatu asrama satu komplek dengan Masjid Al-Azhar, yang sampai sekarang masih ada namun tidak dipakai lagi.
"Diharapkan dengan peringatan ini hubungan erat terutama mengembalikan keharmonisan dua negara dapat tercapai, apalagi generasi muda kedua bangsa mulai kurang mengenal satu sama lain," demikian Fachir.
Acara peringatan 63 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Mesir dimeriahkan dengan kolaborasi pentas seni budaya kedua negara oleh siswa Sekolah Indonesia Cairo (SIC), mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Azhar dan para seniman profesional setempat.
Serangkai dengan peringatan ini, sebelumnya telah digelar berbagai kegiatan seminar, lomba karya tulis mahasiswa Indonesia dan resepsi diplomatik. (es/es)











































