Demikian diberitakan New York Times mengutip pejabat-pejabat pemerintah AS. Selain lithium, cadangan mineral yang belum pernah diketahui sebelumnya itu juga mencakup besi, tembaga, kobalt dan emas. Cadangan mineral itu begitu besar sehingga bisa mengubah negara Afghanistan yang miskin menjadi salah satu pusat pertambangan penting dunia.
Kandungan mineral itu ditemukan oleh tim pejabat Pentagon dan geologis AS. Kekayaan alam itu ditemukan di berbagai penjuru Afghanistan termasuk di wilayah selatan dan timur di sepanjang perbatasan dengan Pakistan, tempat terjadinya perlawanan kelompok Taliban yang paling intens.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentunya ada banyak sekali, tapi saya pikir itu potensinya sangat besar," imbuhnya.
Menurut sebuah memo internal Pentagon, Afghanistan bisa menjadi "lithium Arab Saudi". Lithium merupakan bahan mentah kunci dalam produksi baterai untuk laptop dan barang-barang elektronik lain seperti telepon genggam.
Pejabat-pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan, Afghanistan saat ini tidak memiliki industri atau infrastruktur pertambangan. Jadi butuh waktu beberapa dekade bagi negeri itu untuk bisa mengeksploitasi benar-benar seluruh kekayaan mineralnya.
Menurut temuan AS itu, cadangan terbesar yang ditemukan sejauh ini adalah besi dan tembaga. Begitu besarnya kuantitas tersebut sehingga cukup untuk menjadikan Afghan sebagai produsen besar dunia.
Berita ini diduga akan meningkatkan persaingan antara pemain-pemain regional seperti China, India dan Rusia untuk merebut peran yang lebih besar dalam mengeksploitasi sumber daya alam tersebut.
Dua perusahaan China sebelumnya telah menyatakan komitmen mereka untuk investasi senilai US$ 4 miliar di sektor pertambangan tembaga Aynak, sebelah selatan Kabul, ibukota Afghanistan. Itu merupakan investasi asing non-militer terbesar di Afghanistan sejauh ini.
(ita/nrl)










































