Dari pantauan detikcom, pukul 10.00 WIB, Senin (14/6/2010) di Halte Transit Dukuh Atas I misalnya, antrean penumpang laki-laki dan perempuan masih berbaur. Sekitar 50 orang penumpang yang menyesaki halte menunggu bus koridor Dukuh Atas-Ragunan dan Dukuh Atas-Pulogadung.
Padahal, petugas telah memisahkan pintu masuk penumpang laki-laki dan perempuan di halte itu, dengan menempelkan gambar laki-laki dan perempuan di pintu masing-masing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Desi mengatakan seharusnya ada petugas yang berjaga dan mengarahkan antrean. "Tidak cukup ditempel saja, kan nggak semua penumpang lihat. Ini kan aturan baru, harusnya petugasnya aktif menyosialisasikan," saran Desi.
Namun Desi memuji jika aturan ini betul-betul diberlakukan. "Kalau pemisahan bagus juga, kan kita sebagai perempuan lebih nyaman naik busway," ucap perempuan berambut panjang ini.
Sementara itu, salah seorang petugas di Hate Dukuh Atas, Hanjanuar, mengatakan pemisahan antara perempuan dan laki-laki memang masih fleksibel, tergantung kesadaran penumpang.
"Laki-laki dan perempuan pagi ini tidak terlalu ramai, jadi tidak diatur, kesadaran dari penumpang saja. Kalau sore dan jam pulang kerja, itu baru petugas akan mengatur, kan penumpang ramai," terang Han.
Han juga mengakui penerapan aturan ini terkadang masih sulit diberlakukan sepenuhnya.
Sejumlah halte yang padat tak menerapkan aturan tersebut. Seperti di Koridor 1 (Halte Masjid Agung, Tosari dan Glodok), Koridor 2 (Halte Senen), Koridor 3 (Halte Pasar Baru, Juanda, Pecenongan, Jelambar, Indosiar, Rawa Buaya, Pesakih, Taman Kota, Jembatan Gantung), koridor 4 (Halte Dukuh Atas 2), Koridor 5 (Halte Matraman, Pademangan, Jatinegara), Koridor 6 (Halimun, Deptan), dan di Koridor 8 (Halte Grogol 2 dan Tomang Mandala).
(gun/nrl)











































