"(wacana) Itu justru tidak edukatif," kata pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi kepada detikcom, Minggu (13/6/2010) malam.
Tulus mengatakan, ide soal listrik gratis bukan wacana yang layak dikembangkan. Sebab, secara riil listrik malah harus mengalami kenaikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tulus menjelaskan, menggratiskan listrik bukan solusi untuk mengatasi permasalahan. Jika memang ingin mengeluarkan kebijakan pro rakyat, listrik gratis lebih baik diperuntukan bagi sektor yang langsung berhubungan dengan masyarakat.
"Seperti gratis pasokan listrik untuk transportasi, pendidikan. Itu lebih riil," tukas Tulus.
Sebelumnya diberitakan, Dirut Utama PLN Dahlan Iskan menantang para politisi di Senayan untuk menggratiskan masyarakat miskin mendapatkan aliran listrik.
Dasar usulan Dahlan adalah dengan memberikan seluruh subsidi kepada golongan masyarakat miskin (pengguna 450 MW) dan pembayaran normal atau sebesar biaya produksi listrik (Rp 1.000 per kwh) oleh golongan lain, maka PT PLN akan kehilangan dana sebesar Rp 1,5 triliun tetapi dapat penerimaan sekitar Rp 30 triliun.
"Saya challenge (tantang) ke DPR, kenapa yang miskin nggak dikasih gratis. Biarin saya dibilang gila, tapi kalau mau mementingkan yang miskin, ya, dikasih gratis saja," tegasnya dalam forum dengan wartawan di Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu, Sabtu (12/6/2010) kemarin.
(ape/fiq)











































