Relawan: Israel Lecehkan Nilai Kemanusiaan

Tragedi Freedom Flotilla

Relawan: Israel Lecehkan Nilai Kemanusiaan

- detikNews
Jumat, 11 Jun 2010 17:44 WIB
Relawan: Israel Lecehkan Nilai Kemanusiaan
Jakarta - Sungguh miris apa yang dialami para relawan armada kebebasan (Freedom Flotilla) yang hendak mengirim bantuan ke Gaza, Palestina. Niat tulus mereka dihadang oleh tentara Israel.

Tidak cukup diambil kapal dan bantuan kemanusiaan. Saat ditawan diatas kapal Mavi Marmara, para relawan juga mendapat perlakuan tidak manusiawi.

"Di kapal itu kemanusiaan kami dilecehkan. Kami tidak diberi makan, tidak diberi minum. Tangan Kami di borgol, diikat depan belakang. Tidak boleh ke toilet," kisah relawan Indonesia, Muhendri, di Masjid Agung Al Azhar, Jl Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (11/6/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Muhendri menceritakan, ada seorang relawan asal Malaysia bernama Selamet yang minta ke toilet. Namun dilarang oleh tentara Israel sehingga menyebabkan kakek berusia 60 tahun tersebut terpaksa kencing di celana.

"Pak Selamet kan sudah tua. Sehingga ke toilet tidak bisa ditahan. Dia minta ke tentara Israel untuk pergi ke toilet tapi tidak boleh. Kemudian maaf, dia terpaksa kencing di celana. Dia salat dengan kondisi seperti itu," tutur Muhendri.

Muhendri menggambarkan, saat terjadi penyerangan oleh Israel dirinya tengah melaksanakan salat subuh berjamaah. Di tengah membaca doa qunut nadzilah pada rakaat kedua, dirinya mendengar suara bom dan juga rentetan tembakan sehingga salatnya cepat diselesaikan.

"Suasana saat itu panik. Saat itu kami mendengar bom, tembakan. Kami hanya punya kalimat takbir. Kami tidak punya apa-apa. Kami hanya punya semprotan air," terangnya.

Muhendri melanjutkan, sejumlah relawan melakukan perlawanan dengan menyemprotkan air dari selang pemadam yang ada di kapal. Namun perlawanan tidak dapat berlangsung lama karena ada relawan yang menjadi korban.

"Tidak sampai beberapa semprotan air, Okvianto tertembak tangannya. Tangan sebelah kanan koyak dagingnya dan mematahkan tulang bagian atas tangannya," jelasnya.

Sekitar 45 menit akhirnya tentara Israel berhasil menguasai kapal Mavi Marmara. Muhendri dan ratusan relawan lainnya kemudia dibawa ke penjara Israel.

Atas apa yang telah dialaminya. Muhendri mengajak agar kejadian ini membuka mata dunia untuk membantu penduduk Palestina yang dijajah oleh Israel.

"Mari kita buka peluang sebesar-besarnya untuk membebaskan Palestina. Siapapun yang mau membebaskan Palestina kita ajak bersama-sama," pungkasnya.

(ddt/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads