Warga Inggris pun kesal dengan kritikan-kritikan Obama yang dianggap berlebihan itu. Apalagi belum lama ini, Obama mencetuskan bahwa CEO BP, Tony Hayward, pasti sudah dipecat seandainya bekerja untuknya.
"Tak ada gunanya menyerang BP terus-menerus. Itu tidak membantu," kata Mark Dampier dari perusahaan jasa keuangan Inggris, Hargreaves Lansdown seperti dilansir Telegraph, Jumat (11/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam perdagangan di Wall Street, Rabu, 9 Juni lalu, saham BP tercatat anjlok hingga 15,8% hingga terpuruk di bawah US$ 30 per lembar karena investor khawatir biaya penanganan masalah tumpahan minyak di Teluk Meksiko itu akan membengkak. Padahal 20 April lalu, atau ketika terjadinya ledakan yang menyebabkan tumpahan minyak, saham BP berada di level US$ 60,48 per saham.
Saham BP kini tercatat sudah terpangkas hampir 50% atau sekitar US$ 70 miliar yang hampir setara dengan cadangan devisa Indonesia. Kasus tumpahan minyak di Teluk Meksiko yang menjadi salah satu sejarah buruk di AS itu sudah berlangsung sejak 22 April dan menewaskan 11 pekerja.
BP mengaku telah mengeluarkan US$ 1,43 miliar untuk mengatasi bencana tumpahan minyak tersebut termasuk kompensasi. BP kemungkinan masih harus mengeluarkan dana yang lebih besar untuk mengatasinya.
(ita/nrl)











































