"Saya sudah lama menahan diri untuk tidak berkomentar padahal saya harus berkata saya prihatin dengan kondisi KPK," ujar Ruki saat ditemui usai acara Sarasehan Alumni PTIK di auditorium PTIK, Jl Tirtayasa, Jaksel, Kamis (10/6/2010).
Rasa prihatin yang diungkapkan Ruki buka tanpa alasan. Sebagai salah satu yang ikut membangun pondasi KPK, ia merasa pimpinan KPK jilid dua lemah dan tidak kompak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ini penurunan dari berbagai hal sangat memprihatinkan karenanya harapan saya kepada Pansel dan DPR jangan sampai salah memilih orang lagi karena korupsi ini harus benar-benar diberantas," tegasnya.
Menurut anggota BPK ini, keprihatinannya kepada KPK bukan karena masalah penanganan kasus, melainkan karena pimpinan KPK yang tersangkut masalah.
"Saya tidak puas dengan KPK saat ini bukan masalah penanganan kasus, tapi karena seperti yang kita lihat sendiri. Pimpinannya bermasalah," jelasnya.
Terakhir, pria berambut putih berharap agar kesalahan perekrutan pimpinan KPK jilid II lalu bisa menjadi pelajaran bagi Pansel saat ini. "Jadi pemilihan pimpinan KPK (harus) mengacu pada pimpinan KPK lembar kedua ini. Harus dicari orang-orang yang mampu kembali membangun KPK dan menjalankan. Sehingga KPK mampu menjalankan fungsinya dengan baik," tuturnya.
Saat ditanya siapa yang layak jadi pimpinan KPK, Ruki enggan berkomentar. "Saya tidak mau merujuk pada satu orang," jelasnya.
"Kalau sosok Pak Jimly, Pak Busyro gimana Pak?" Tanya wartawan.
"Saya ngga (komentar) lah," tutupnya.
(ape/ndr)










































