"Menurut saya orang seperti Pak Jimly turun gunung karena melihat fenomena yang mendaftarkan diri banyak dari pengacara para koruptor," kata
kata Peneliti Hukum Indonesia Corruption Watch (ICW) Febri Diansyah di kantor ICW, Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (9/6/2010).
Febri menyatakan, Jimly memiki penguasaan hukum tata negara dan mengetahui prinsip-prinsip kepemimpinan. Namun menurutnya, karakter KPK berbeda dengan MA. KPK lebih aktif sedangkan MA hanya pasif menunggu putusan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Febri menilai Jimly ikut maju menjadi calon pimpinan KPK karena tidak ingin lembaga itu menjadi koruptor idol. "Menurut saya orang seperti Pak Jimly turun gunung karena melihat fenomena yang mendaftarkan diri banyak dari pengacara para koruptor," katanya.
Salah satu hal yang menjadi catatan bagi Febri adalah saat Jimly memutus Judicial Review UU KPK terkait pengadilan tipikor. "Saya kira itu saja yang kontroversial," katanya.
(nal/nal)










































