Menteri Agama Buka Munas ke-3 Hidayatullah di Makassar

Menteri Agama Buka Munas ke-3 Hidayatullah di Makassar

- detikNews
Minggu, 06 Jun 2010 21:43 WIB
Menteri Agama Buka Munas ke-3 Hidayatullah di Makassar
Makassar - Menteri Agama Suryadharma Ali membuka secara resmi pelaksanaan Musyawarah Nasional Hidayatullah yang ke-3, di Masjid Al Markaz Al-Islami, Makassar, Minggu (6/6/2010). Munas ormas Islam ini juga dihadiri oleh mantan Wapres Jusuf Kalla, Ketua Umum PBB MS Ka'ban, mantan Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir, anggota DPD RI Aziz Qahhar Mudzakkar dan Walikota Makassar Ilham Arif Sirajuddin.

Munas Ormas Islam yang didirikan oleh KH Abdullah Said pada tahun 1973 di Balikpapan ini, mengusung tema 'Satu Tekad Membangun Peradaban Islam Menuju Indonesia Bermartabat'. Munas yang berlangsung dari tanggal 6-9 Juni, di Asrama Haji Sudiang, Makassar, dihadiri oleh ribuan anggota Hidayatullah dari 33 Pimpinan Wilayah dan 249 Pimpinan Cabang se-Indonesia. Sebelum Munas dibuka usai salat Isya malam ini, ustadz kondang Yusuf Mansyur diundang memberikan ceramahnya.

Menurut Suryadharma dalam sambutannya, kondisi umat Islam di Indonesia yang jumlahnya paling besar dibanding umat dari agama lainnya, memerlukan perhatian ekstra dari ormas-ormas Islam, seperti Hidayatullah. Menag RI yang juga ketua umum PPP ini berharap Hidayatullah menjadi pionir dalam pengembangan potensi umat Islam di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia juga menyinggung beberapa ormas Islam mengalami degradasi akibat terjebak dalam politik praktis, karena tidak mampu menerapkan semangat kewirausahaan dengan baik.

"Banyak daerah terpencil yang membutuhkan muballigh, sebab tidak sedikit umat Islam dirasuki ajaran sesat dan penafsiran yang salah. Saya berharap Hidayatullah bisa mengirim dai-dainya ke daerah terpencil, nanti bisa bekerjasama dengan Departemen Agama dan akan dialokasikan anggaran dari negara," pungkas Suryadharma.

Sementara menurut Jusuf Kalla yang menyampaikan pidato penutup sebagai sesepuh Hidayatullah, konsep dakwah Hidayatullah harus dibarengi dengan upaya-upaya ekonomi yang lebih bersemangat, agar umat Islam tidak tertinggal dari umat agama lain. "Umat Islam di Indonesia bisa bermartabat, jika ekonomi, pendidikan dan agama bisa berjalan secara seimbang," tandas JK.

(mna/anw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads