"Sekolah kita sudah sering jadi tempat studi banding. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara luar," tutur Kepala Sekolah SDN IX Bantar Jati Yayah Komariah di sela-sela acara Pekan Lingkungan Indonesia di JCC, Jl Gatot Soebroto, Jakarta, Minggu (6/6/2010).
Tamu SD ini misalnya Kementerian Lingkungan Hidup Malaysia pada Mei lalu. Kementerian Lingkungan Hidup dari Nepal juga akan bertamu 9 Juni mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain tampil mengolah sampah, siswa juga diajak menabung sampah. Dari yang organik, anorganik hingga minyak jelantah. "Sampah plastik (anorganik) dibuat jas hujan, jaket, rompi dan celemek dan yang organik diolah jadi kompos," ujar Yayah.
Untuk minyak jelantah, dikumpulkan untuk dibuat bahan bakar bus Trans Pakuan. "Per liter dihargai Rp 3 ribu. Dalam sebulan kita bisa dapat 150 liter minyak," ceritanya bangga.
Proses ini memang tidak berlangsung seketika. Butuh 6 tahun untuk membangun SD Negeri IX Bantar Jati menjadi sekolah yang berwawasan lingkungan. "Dulu istilahnya Pagar Kumis alias 'Panas Gersang Kumuh dan Miskin', sekarang jadi Rindu Asti yang artinya Rindang Teduh Asri dan Cantik," tutur Yayah sambil tersenyum.
(dip/nrl)











































