Hadir di antaranya adalah Prof Dr Donald Emmerson dari Stanford University, Prof Rudiger Frank dari University of Vienna, Prof Helmut Lukas dari Austrian Academy of Science, Dr Alfred Gerstl dari South East Asian Studies, Mr Christian Bothe dari South East Asian Studies dan Mrs Yuki Seidler dari University of London.
Diskursus pagi hari mengenai Indonesia tersebut didominasi oleh saling tukar pikiran antara kalangan akademisi dan pengambil kebijakan. Dinamika Indonesia ternyata mendapat perhatian dan catatan tersendiri, terutama terkait dengan peranan dan arah integrasi ASEAN yang berimplikasi terhadap kepentingan negara-negara anggotanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak menutup kemungkinan, krisis keuangan di Yunani yang menggerogoti Uni Eropa, membuat banyak negara anggota ASEAN yang memiliki fondasi ekonomi mapan akan berpikir ulang untuk mempertimbangkan gagasan penggunaan mata uang bersama ASEAN.
ASEAN sesungguhnya memiliki landasan kokoh yang perlu terus dikembangkan untuk menghadapi tantangan-tantangan ke depan. Indonesia berkepentingan untuk menempatkannya dalam radar concentric circle kebijakan luar negerinya, karena ASEAN sendiri merupakan lingkaran regional yang dapat menjadi medium penyampaian profil Indonesia.
Indonesia dipandang lebih besar dari ASEAN sendiri sehingga ini adalah keuntungan yang mestinya disalurkan dengan baik oleh Indonesia bagi
kepentingan nasionalnya. Salah satu gagasan penting yang muncul dalam diskusi ini adalah keinginan komunitas akademisi di Eropa untuk memiliki akses bagi pengembangan diseminasi bahasa yang digunakan dalam ASEAN.
Ide itu dipandang sebagai pemikiran menarik yang dapat diteruskan kepada Pemerintah dan berharap dapat dipertimbangkan secara matang.
(mok/mok)











































