"Sangat rumit membayangkan saat membuatnya. Saya sangat suka melihatnya," ucap Sutono, seorang pengunjung saat melihat Keris Palembang milik kolektor Fadli Zon di Pameran Keris 'Keris for the World', Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (4/6/2010).
Keris tersebut sangat teliti. Rapih di 'pamor'-nya dengan gagang berwarna coklat. Keris tersebut merupakan warisan Palembang era Mataram. Sarung keris pun dibuat detail dengan ukiran relief yang sangat halus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk membuat keris bertekstur sederhana, sedikitnya menghabiskan waktu 1 bulan. Bila lebih rumit dan penuh lekuk, dapat 3 hingga 6 bulan.
"Bahannya dari besi sama batu meteor. Karena meteor terbatas, diganti nikel," imbuhnya.
Pembuat keris (empu) mulai menempa kedua bahan itu perlahan. Tiap lempengan keduanya akan ditimpa lagi terus menerus hingga 128 lapisan. Tetapi, menurut Kuntadi, untuk pemula (mahasiswa) 34 atau 48 lapisan sudah dinilai cukup.
"Itu yang membedakan harga jual tiap-tiap keris. Makin rumit, makin banyak lapisan, dan makin nyeni, harganya bisa puluhan juta rupiah. Belum yang bernilai sejarah, bisa ratusan juta," imbuhnya.
Tak heran, nilainya yang tidak murah membuat pengunjung pameran kebanyakan dari kalangan menengah Jakarta. Selain kolektor, banyak yang datang untuk membeli keris-keris yang dipamerkan untuk hiasan di rumah.
"Saya tertarik dengan ukirannya yang khas. Sepertinya pas mempercantik ruang keluarga," Sutono.
(Ari/nwk)











































