Namun, peningkatan ini tidak terlalu signifikan karena sunspot yang muncul kemudian menghilang dalam beberapa hari.
"Fase minimun yang relatif lebih panjang dari siklus-siklus sebelumnya memberikan indikasi bahwa siklus matahari memasuki suatu anomali," ujar Kepala Bidang Matahari dan Antariksa Lapan, Bachtiar Anwar, dalam rilis LAPAN yang diterima detikcom, Kamis (3/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun menurut Bachtiar, energi yang dilepaskan dalam bentuk badai matahari ini tidak akan terlalu dahsyat. Berdasarkan observasi, badai matahari dahsyat pada siklus ke-24 diperkirakan akan terjadi setelah puncak aktivitas atau ketika fase turun yaitu pada 2015 - 2016.
Tapi jangan kuatir, dampak langsung badai matahari juga tidak terlalu dirasakan bagi kawasan Indonesia. Dari hasil simulasi peneliti LAPAN, Bambang Setiadi, ditemukan bahwa makin besar badai matahari yang datang, makin tebal perisai magnetosfer.
"Bumi ternyata memiliki medan magnet yang dapat berperilaku sebagai perisai ketika badai matahari menerpa bumi," tuturnya.
(nvc/nrl)










































