Carkam tampak tertidur nyenyak di tenda pengungsian. Dengan beralaskan kasur tipis yang sempat dibawa, Carkam ditemani ibu dan neneknya.
"Baru dua puluh hari mbak. Kasihan saya lihatnya," ujar sang Nenek Karyati (57) saat berbincang di tenda pengungsian, Rabu (2/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya, lihat sendiri, tenda pengungsiannya kalo ujan, kena ujan. Kalo panas, kepanasan. Baju barunya cucu saya semua habis kebakar. Saya si cuma mikir cucu saya," kata Karyati sambil menghela napas.
Wanita asli Cikarang ini, tinggal bersama tiga orang anak dan satu orang menantunya. Sampai saat ini, ia belum memiliki rencana ke depan.
"Kalau ada rezeki cepet, ya, dibangun. Tapi anak saya juga semua cuma buruh serabutan. Yang paling penting sih buat cucu saya," ujar karyati.
Karyati sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk membangun rumahnya. "Ya, kalau bisa cepetlah bantuan dari pemerintah. Orang sampai sekarang aja yang ngalir baru makanan," tuturnya.
Selain Carkam, 300 ratus bayi lain yang harus tinggal di pengungsian. Wali Kota Jakarta Timur, Murdhani mengatakan ia akan berkoordinasi dengan pemilik Gedung Pertanian yang menjadi tempat pengungsian.
"Yang pasti akan kita kasih prioritas untuk ibu dan bayi-bayi," kata Murdhani di lokasi pengungsian.
(irw/irw)











































