"Kultur suporter Jakmania ini sangat memprihatinkan," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Boy Rafli Amar, kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (31/5/2010).
Kecenderungan tindakan anarkis yang dilakukan Jakmania mencerminkan kondisi kejiwaan suporter yang masih labil. Tindakan tawuran dalam melampiaskan ketidakpuasan karena kekalahan tim favoritnya, serta perlengkapan sejumlah senjata tajam yang dibawa suporter, dianggap polisi sebagai bentuk pencarian identitas suporter yang kebanyakan masih di bawah umur.
"Memang kulturnya seperti itu. Saya yakin ini grup-grup ini sedang proses mencari jati diri," katanya.
Sejumlah razia di titik-titik pemberangkatan yang dilakukan aparat polisi sebagai upaya preventif terhadap suporter Jakmania sepertinya hanya sia-sia. Karena pada kenyataannya, ulah suporter tersebut terus berulang.
Pengawalan dari kepolisian pun dirasa tidak berarti. Tawuran antar suporter pascapertandingan, tetap saja terjadi.
"Selama ini memang seperti itu (dikawal) tapi setiap pertandingan selalu terjadi demikian (tawuran). Apakah kualitas masyarakat seperti itu?" imbuhnya.
Dalam razia suporter Jakmania yang dilakukan sejak 16 Maret hingga 30 Mei 2010 ini, polisi telah menyita ratusan barang bukti diantaranya 650 gesper besar, 77 gir motor dan sepeda, 12 senjata tajam, 4 bom molotov, 48 bongkah batu serta 10 anak panah.
Polisi memastikan, suporter Jakmania merencanakan barang bukti tersebut untuk melukai pihak lain. "Ini adalah sesuatu yang direncanakan secara khusus dalam arti kata akan dilakukan untuk melakukan penyerangan. Ini pasti dilakukan untuk penyerangan kepada orang lain," tegasnya.
49 Suporter ditetapkan tersangka dalam kasus kepemilikan barang bukti tersebut. Namun, mereka tidak ditahan. "Karena mereka masih di bawah umur," cetusnya.
Polisi berharap, dalam laga berikutnya, suporter sepakbola bersikap lebih sportif dalam mengapresiasikan kecintaannya terhadap persepakbolaan. Polisi juga berharap agar koordinator suporter bisa melakukan pembinaan terhadap kelompoknya.
"Agar lebih mengapresiasikan terhadap hal-hal yang positif. Mungkin dengan menciptakan yel-yel," tandasnya.
(mei/lrn)











































