"Ya saya pastinya prihatin karena berita itu sudah menyebar sampai ke Eropa. Saya prihatin karena sebetulnya anak ini kan adalah korban. Jadi jangan dilabelisasi," kata Linda.
Hal ini disampaikan Linda usai acara Lokakarya Jaringan Promosi Keamanan Pangan yang diselenggarakan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di Hotel Borobudur, Jalan lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (31/5/2010).
Menurut dia, banyak LSM-LSM dari luar negeri yang datang ke departemen yang dipimpinnya untuk meneliti anak yang merokok itu.
Linda mengimbau semua pihak sebaiknya membantu agar AL kembali ke kehidupan anak-anak normal. "Karena kalau terlalu diekspose kasihan dia. Nanti mengganggu masa depannya," ujar Linda.
AL yang diberi rokok oleh ayahnya pada umur 18 tahun, ramai diberitakan media asing. Para praktisi kesehatan terkejut dengan adanya balita tambun yang sehari merokok 40 batang.
(aan/nrl)











































