"Kecil kemungkinan. Itu terlalu spekulatif, masih banyak yang bisa terjadi ke depannya," kata pengamat Politik UGM, Arie Sudjito saat dihubungi detikcom, Sabtu (29/5/2010).
Arie mengungkapkan sejumlah alasan. Salah satunya yakni basis jaringan yang berbeda. Anas memiliki basis HMI, sedang Ical kalangan pengusaha.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menegaskan, dalam perjalanan menuju 2014, masih banyak konfigurasi politik dan manuver yang terjadi. Kultur keduanya yang berbeda, Ical dari luar Jawa dan Anas dari Jawa sangat berpengaruh.
"Jadi peluang bersatunya Ical-Anas agak berat. Soal sowan, tidak selamanya investasi politik kemudian menjadi menghasilkan suatu kesepakatan," tutupnya.
(ndr/ken)











































