"Masalah pokoknya adalah bahwa Iran terus memperkaya uranium, dan itu yang harus dihentikan di bawah resolusi Dewan Keamanan PBB," ujar seorang pejabat AS yang minta dirahasiakan identitasnya seperti dilansir Reuters, Sabtu (29/5/2010).
Menurut pejabat-pejabat AS, perjanjian pertukaran bahan bakar nuklir Iran yang diumumkan oleh Brasil dan Turki pada 17 Mei lalu tidak menyelesaikan inti kekhawatiran bahwa program nuklir Iran dimaksudkan untuk memproduksi senjata atom.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Turki dan Brasil, keduanya merupakan negara anggota tidak tetap DK PBB, telah mengumumkan perjanjian dengan Iran. Sesusai perjanjian itu, Iran setuju mengirimkan sebagian uraniumnya ke luar negeri untuk diperkaya sebelum dikirimkan kembali ke Iran. Ini mirip dengan tawaran yang disampaikan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada Oktober 2009 lalu namun kemudian ditolak Iran.
Menurut pejabat-pejabat AS, perjanjian antara Brasil, Turki dan Iran itu sedikit terlambat. Pemerintah AS sudah tak bisa lagi memberikan waktu untuk Iran. Resolusi PBB soal program nuklir Iran diperkirakan sudah akan masuk ke Dewan Keamanan PBB dalam beberapa pekan mendatang.
(ita/ita)











































