Pernyataan itu disampaikan oleh Ketua Walubi Sri Hartati Murdaya Jumat(28/05/10) saat ditemui di sela-sela prosesi pelepasan seribu lampion di pelataran Candi Borobudur Magelang, Jawa Tengah. “Lampion merupakan simbol satu doa atau parita yang berupa permohonan atau make a wish masing-masing pribadi umat ditujukan kepada Sang Buddha yang maha kuasa di atas sana. Dengan terbangnya lampion, maka doa itu akan sampai dan harapan dan permintaanya bisa terkabul,” ujar Sri Hartati.
Terbangnya seribu lampion ini menambah suasana semarak, romantisme dan indahnya Candi Borobudur di malam hari sehingga begitu lampion disulut dan terbang disambut dengan tepuk tangan oleh ribuan umat yang mengikuti prosesi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ritual Pradhaksina
Sebelum pelepasan lampion, puluhan bhiksu dan bikhuni dari tiga sangha Sangha Teravada, Sangha Mahayana dan Sangha Tantrayana melakukan ritual pradaksina dengan mengitari sandi Borobudur sebanyak tiga kali.
Diawali dengan pembacaan parita atau doa di altar budha di depan candi yang dipimpin oleh Ketua Dewan Sangha Walubi Bhiksu Diyanavira, ritual pradaksina berlangsung dengan khusuk dan pengawalan ketat dari panitia pelaksana peringatan Waisak 2554/2010.
Ratusan wartawan, juru kamera, fotografer dan umat dengan antusias mengabadikan moment bagus itu sehingga suasana menambah semarak dan ramai candi yang biasanya sepi di malam hari.
Bahkan, puluhan bhiksu melewati ribuan nyala lilin yang membentuk tulisan; Omah Mi Dewa Hri dalam bentuk dua tulisan alfabet dan tulisan huruf Thailand melakukan sikap anjali (menyembah-red) saat melewati api itu.
Ketua Dewan Sangha Walubi, Bhiksu Diyanavira menjelaskan ritual pradaksina dengan membawa api bermakna bahwa api adalah diumpamakan untuk penerangan supaya batin manusia terang benerang tidak membuat kesalahan, jangan berbuat kejahatan, memupuk kebaikan seperti agama Sang Buddha.
“Harapanya Indonesia bebas dari segala mara bahaya,” tutup Diyanavira.
(ape/ape)










































