Dalam acara itu, puluhan biksu dan biksuni serta ribuan umat Buddha yang telah mengikuti prosesi detik-detik Waisak di pelataran Candi Borobudur, melakukan kirab atau jalan kaki sejauh kurang lebih 6,5 kilometer.
Dalam barisan kirab, baik yang dilakukan Perwakilan Umat Buddha Indonesia(Walubi) atau pun Konferensi Sangha Agung Indonesia (KASI), terlihat beberapa rombongan di antaranya api dharma, air suci, kitab suci umat Buddha, hasil bumi (buah-buahan, sayur-sayuran, padi, ketela, dan lainya) dibawa oleh biksu dan umat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk acara puja bhakti ini, Walubi dan KASI juga memilih waktu rute yang berbeda.
Walubi melewati pintu Pos VIII Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) ke Jalan Sampula, Jalan Syailendra Raya, depan Pasar Borobudur, Jalan Brojonalan, Kompleks Candi Pawon, Jalan Balaputradewa, Jalan Badrowati, Pos VII TWCB, dan menuju pelataran barat daya Candi Borobudur.
Sementara KASI memulai, dari Candi Mendut melewati Candi Pawon dan berakhir di pelataran tenggara Candi Borobudur.
Koordinator Dewan Sangha Walubi, Tadisa Pramitha Sthavira menyatakan ritual puja bhakti ini diikuti oleh kurang lebih sekitar 10 ribu umat.
“Umumnya kirab ini sesuai sejarah dilakukan dari Candi Mendhut, melewati Candi Pawon dan berkahir di pelataran Candi Borobudur. Namun, karena dua organisasi yang melaksanakan dilakukan berbeda pada tahun ini,” tegas Pramitha.
Paramitha berpesan kepada umat walau dilakukan oleh dua aliran umat Buddha yang berbeda, Pramitha berharap kedua organisasi itu bisa bersatu kembali.
“Paling tidak harus bisa mengaktualisasikan Bhineka Tunggal Ika, walau berbeda sekte berbeda aliran, tetapi kita harus berusaha bersatu,” tegas Pramitha.
Pramitha menjelaskan, tujuan ritual puja bhakti dalam rangkaian acara Waisak ini merupakan upacara persembahan dari umat kepada dewa supaya hasil, rezeki, serta peruntungan umat Buddha bisa lebih baik dari tahun yang sekarang.
(lrn/djo)











































