"Pengurus dibentuk setelah Pak SBY pulang dari Oslo, Norwegia. Jadi sekarang tidak bisa dibentuk karena harus atas kesepakatan Pak SBY," kata politisi senior PD Max Sopacua kepada detikcom, Kamis (25/5/2010).
Menurut Max, Ketua Umum terpilih Anas Urbaningrum sekalipun tidak bisa menempatkan orangnya secara sembarangan ke dalam kepengurusan PD. Sebab kendali partai masih berada di tangan SBY. "Nggak bisa suka-suka, mentang-mentang teman terus kita masukin. Kita ambruk di depan kalau melepas Pak SBY," terang Max.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wewenang SBY tidak hanya sebatas itu saja, sebagai Ketua Majelis Tinggi, SBY diberi wewenang mengambil sikap dan menentukan calon Bupati, Gubernur, Hingga Capres. Karena itu, Anas belum pasti jadi capres dalam Pilpres 2014 mendatang.
"Menampilkan ketum menjadi presiden, bisa jadi. Tapi tergantung situasi dan kondisinya. Tidak otomatis, begitu karena itu wewenang SBY bersama majelis tinggi," tutupnya.
SBY Belum Setuju
Tawaran kubu Anas agar Edhy Baskoro Yudhoyono (Ibas) menjadi Sekjen PD agaknya sulit terealisasi. Presiden SBY yang merupakan ayah Ibas ternyata belum menyetujui anaknya jadi Sekjen PD.
"Ibas itu memang diinginkan oleh banyak orang untuk diorbitkan jadi Sekjen, tapi bagi Cikeas masih perlu waktu," kata politisi senior PD Max Sopacua.
Menurut Max, SBY masih menimbang posisi Sekjen yang ditawarkan kepada Ibas karena tugas Sekjen masih terlalu berat untuk Ibas. Max sendiri berharap Sekjen PD adalah kader profesional yang cukup berpengalaman. Sebab, posisi Sekjen PD sangat mempengaruhi daya saing PD di Pemilu 2014.
"Karena Sekjen tidak hanya mengurusi organisasi PD tetapi organisasi ke dalam dan ke luar. Jadi harus berpengalaman sekali, karena itu menyangkut masa depan partai. Kalau Ibas, kita pupuk jadi pemimpin partai masa depan, lima tahun ke depan jadi calon Ketum PD," terangnya.
(van/yid)











































