Demikian hasil pembicaraan Dubes RI A.M. Fachir dan Rektor Universitas Zagazig Prof. Dr. Mahir Addimyathi seperti disampaikan Konselor Pensosbud Iwan Wijaya Mulyatno kepada detikcom, Rabu (26/5/2010).
Dalam pertemuan menjelang Seminar Hubungan Diplomatik Indonesia-Mesir di Aula Utama Universitas Zagazig itu Dubes Fachir didampingi Prof. Dr. Sangidu, M.Hum melakukan paving the way (merintis jalan, red) bagi mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan pascasarjana (S2) di Zagazig.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal-hal teknis dan administratif dapat ditanyakan oleh para peminat langsung kepada Dekan Fakultas Sastra Universitas Zaqazig dan koordinasi dengan KBRI.
Sejak Soekarno
Seminar dalam rangka memperingati 63 tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Mesir yang jatuh pada 10/6 nanti, bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan membangkitkan hubungan emosional yang sudah sejak lama dimiliki kedua bangsa.
"Betapa erat hubungan itu sejak Mesir memelopori negara-negara Arab untuk memberikan pengakuan terhadap Indonesia yang baru memproklamirkan kemerdekaannya," ujar Dubes Fachir dalam pidato pembukaan seminar.
Menurut Fachir, hubungan erat kedua bangsa dan pemimpinnya juga tercermin dari kunjungan presiden Soekarno ke Mesir yang dalam rentang waktu 10 tahun sempat berkunjung 6 kali ke Negeri Piramida itu.
Selain itu berkat keeratan hubungan presiden Soekarno dan Nasser, bersama Nehru (India) dan Tito (Yugoslavia), kedua negara juga berhasil menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung (1955), yang menjadi cikal bakal Gerakan Non-Blok (GNB).
Dubes Fachir juga menekankan kedua bangsa perlu melanjutkan sejarah hubungan yang telah dirintis dengan mencari terobosan atau pemikiran baru untuk meningkatkan hubungan bilateral Indonesia-Mesir.
Seminar menghadirkan pembicara Guru Besar Universitas Gajah Mada Dr. Siti Muthiah dengan makalah "Meningkatkan Hubungan antara Indonesia-Mesir" dan Atdiknas KBRI Riyadh Dr. M. Luthfi yang mempresentasikan makalah berbahasa Arab dengan judul "Hubungan Indonesia-Mesir dalam Neraca".
Dari pihak Mesir adalah Prof. Dr. Nagui Abdel Basith Hudhud menyampaikan presentasi "KAA Bandung dan Hubungan Mesir-Indonesia", Prof. Dr. Ra'fat Ghanimy el Sheikh dengan paparan mengenai "Abdul Nasser dan Soekarno, Kisah Perjuangan Bersama", dan Prof. Dr. Ibrahim Abdurrahman Ouda mempresentasikan “Perguruan Tinggi, Pelatihan, Pengembangan SDM dan Pelayanan Masyarakat."
(es/es)











































