"Kerjasama untuk peningkatan mutu pendidikan dasar Indonesia, grant awal sekitar 200 juta Euro. Ini merupakan komitmen Uni Eropa untuk melaksanakan Deklarasi Paris," ungkap Wakil Menteri Bappenas, Lukita Dinarsyah Tuwo usai pembukaan Asean-European Meeting (ASEM) Development Conference II di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta, Rabu (26/5/2010).
Menurut Lukita pemberian bantuan secara bertahap ini dilakukan hingga tahun 2014. Pada tahap pertama Indonesia mendapatkan bantuan hibah dana 200 juta Euro. Bantuan yang diberikan di antaranya pengiriman tenaga teknis bidang pendidikan untuk meningkatkan kualitas, akses dan tata kelola pendidikan dasar yang lebih baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu Menteri/Kepala Bappenas, Armida S. Alisyahbana menambahkan bantuan dana yang diberikan Uni Eropa itu bukan pinjaman atau loan, melainkan hibah. "Ini harus kita sambut baik, karena dana/grant tersebut akan masuk dalam sistem anggaran kita dan menggunakan budget system," kata Armida.
Selain hibah untuk pendidikan lanjut Armida, Uni Eropa juga akan membantu di sektor lain terutama berkaitan dengan perdagangan, kesehatan, program pengentasan kemiskinan dan perubahan iklim serta pembangunan berkelanjutan.
Bidang pendidikan lebih difokuskan untuk peningkatan mutu pendidikan dasar agar lebih merata di semua daerah sehingga tidak terjadi kesenjangan. Selain itu, Uni Eropa juga menyalurkan dana lebih dari 350 juta Euro melalui Global Fund untuk memerangi HIV/Aids, tuberkolosis dan Malaria. "Hasil pertemuan ini akan kita bawa pada KTT ASEM di Belgia akhir tahun ini," katanya.
Dalam pertemuan ASEM II di Yogyakarta akan berlangsung selama 2 hari hingga hari Kamis 27 Mei 2010. Pertemuan itu dihadiri 27 negara anggota Uni Eropa, 10 negara anggota Asean, 3 negara Asia yakni China, Jepang dan Korea ditambah 3 negara Asia lainnya yakni India, Pakistan dan Mongolia. Turut hadir dalam pertemuan itu Ketua Komisi Uni Eropa, Andris Piebalg.
(djo/djo)











































